Rabu, 23 Maret 2011 | By: indra septian

(27 JUNI 1955)MASALAH PENGGANTIAN PIMPINAN ANGKATAN DARAT, PERISTIWA 27 JUNI


Setelah "Rapat Collegiaal" di Yogyakarta yang menghasilkan Piagam Keutuhan Angkatan Darat pada bulan Februari 1955, pertentangan di dalam tubuh Angkatan Darat sehubungan dengan "Peristiwa 17 Oktober" telah dapat diakhiri.
Meskipun demikian, antara Angkatan Darat dan Pemerintah tetap tidak tercapai ke¬sepakatan mengenai penyelesaian peristiwa 17 Oktober 1952.Oleh karena itu, pada tanggal 1 Mei 1955 Jenderal Mayor Bambang Sugeng mengundurkan diri dari jabat¬an KSAD. Selama jabatan KSAD belum terisi, pimpinan Angkatan Darat oleh Peme¬rintah diserahkan kepada Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Kolonel Zulkifli Lubis.
Untuk mengisi kekosongan jabatan KSAD, Pemerintah kemudian mengangkat Kolo¬nel Bambang Utojo, Panglima Tentara dan Teritorium II/Sriwijaya sebagai KSAD. Pimpinan Angkatan Darat tidak dapat menyetujui keputusan Pemerintah itu, sehingga pelantikan Kolonel Bambang Utojo sebagai KSAD pada tanggal 27 Juni 1955 ber¬langsung tanpa dihadiri oleh perwira-perwira Angkatan Darat. "Peristiwa 27 Juni" ini mengakibatkan jatuhnya Kabinet Ali–Wongso.

Masalah penggantian pimpinan Angkatan Darat ini akhirnya diselesaikan oleh Kabi¬net Burhanuddin Harahap yang menggantikan Kabinet Ali–Wongso. Pada tanggal 28 Oktober 1955 Kabinet memutuskan untuk mengangkat Kolonel A.H. Nasution, salah satu dari enam orang calon yang diajukan oleh pimpinan Angkatan Darat seba¬gai KSAD. Pelantikannya dilakukan pada tanggal 7 November 1955.

0 komentar:

Poskan Komentar